Berita

Bandar Publishing Terbitkan Buku “Doa Orang Gila

REPORTASE, BANDA ACEH – Mengawali tahun 2021, Bandar Publishing, sebuah lembaga penerbitan di Banda Aceh, menerbitkan buku “Doa Orang Gila dan Hal-hal Tak Terduga di Aceh”.

Penerbitan buku ini menjadi bagian dari usaha penerbit Bandar untuk menyediakan bacaan tentang Aceh kepada khalayak luas. Buku karya jurnalis cum blogger Aceh tersebut mulai besok, Selasa (9/2/2021) beredar untuk publik.

Buku setebal 160 halaman berisi rekaman dan cerita tentang dinamika perjalanan Aceh saat dibalut konflik berkepanjangan. Ada banyak kisah menarik yang dipaparkan di dalam buku jurnalis Aceh ini, di antaranya tentang kisah masa perang dan dampaknya bagi masyarakat kecil.

Buku ini dibagi ke dalam tiga bagian, di mana masing-masing bagian berisi 11 tulisan yang dapat dibaca sendiri-sendiri.

Penulis buku, Taufik Al Mubarak mengatakan, buku Doa Orang Gila sudah dipersiapkan sejak awal Desember 2020 lalu.

Di dalam buku ini, Taufik memaparkan ada banyak kisah sedih dan lucu yang terjadi ketika Aceh berkubang dalam balutan konflik. Kisah-kisah itu, katanya, diingat dan diceritakan, dengan nuansa berbeda-beda.

“Kisah sedih, misalnya, sekali pun diceritakan dengan riang-gembira, tetap saja menyisakan luka. Sementara kisah lucu, menjadi tidak lucu ketika kisah itu terjadi atau saat diceritakan. Dan, oleh orang Aceh, kedua ‘jenis kisah’ itu sama-sama dinikmati dengan kadar yang seimbang,” tulisnya.

Sementara Manajer Bandar Publishing, Nurmasyitah, menjelaskan buku Doa Orang Gila telah dicetak sebanyak 500 eks atas dukungan Bandar.

Buku tersebut nantinya juga akan tersedia di toko buku Gramedia. Karena Bandar Publishing sejak 2020 telah menjadi supplier resmi jaringan Gramedia.

Nurmasyitah, menjelaskan kehadiran buku Doa Orang Gila dapat menambah khazanah bacaan bagi masyarakat Aceh khususnya, dan publik Indonesia secara luas. Apalagi, cukup banyak hal-hal penting dan menarik yang dikemas dalam buku yang ikut diberi pengantar oleh cendekiawan Muslim, Fachry Ali.

“Penulis dengan kejeliannya mengangkat beberapa kejadian miris menjadi bacaan yang enak dibaca. Belum lagi, ketika kisah-kisah tersebut dikemas dengan judul yang sedikit ‘gila’,” katanya.

Lewat kisah-kisah yang dipaparkannya, tambah Masyitah, sang penulis seakan sedang mengajak kita semua untuk menangis dan tertawa secara seimbang. “Penulis mengajak kita merenung, apa yang salah dengan Aceh ini?” tegasnya.

Fachry Ali yang memberi pengantar untuk buku ini menyebutkan, buku Taufik Al Mubarak ini akan menjadi kajian etnografi baru sekiranya dibahani dengan hasil observasi yang lebih mendalam. “Tetapi dengan cerita-cerita unik yang ditampilkan di sini sudah cukup memadai sebagai sebuah rekaman perubahan sikap masyarakat Aceh pasca Gerakan Aceh Merdeka (GAM),” tulisnya.

Sebagian kisah yang ditulis Taufik, lanjutnya, hanya lahir dalam sistem ingatan kolektif di bawah pengaruh GAM ini.

“Seperti terlihat dalam tulisan “Sisa Batuk Masa Konflik” di dalam buku ini, menjadi cerita pahit kepada masyarakat. Akan tetapi, cerita yang sama juga berfungsi sebagai alat menertawakan diri sendiri,” ulas kolomnis Tempo, tersebut.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

More in:Berita

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *